DUSUN GESING Produsen Kopi Berkualitas

Published Februari 19, 2013 by mariaekawulandari

Dusun Gesing

 

Dusun Gesing merupakan wilayah yang menjadi titik pusat dari Desa Gesing. Dusun Gesing sebagai pusat desa memiliki sumber daya manusia yang jumlahnya lebih besar daripada dusun lainnya, yaitu berjumlah sekitar 270 Kepala Keluarga (KK) dan terbagi ke dalam lima Rukun Tetangga (RT). Komposisi penduduk Dusun Gesing cukup beraneka ragam, tetapi masih tergolong dalam kondisi seimbang. Komposisi ini tergolong dalam usia, angkatan kerja, dan keanekaragaman agama. Keanekaragaman agama yang ada di wilayah Dusun Gesing memunculkan tempat-tempat ibadah yang berbeda dan tentunya memberi warna bagi kekayaan arsitektural di Dusun Gesing. Terdapat sebuah bangunan masjid dan sebuah bangunan gereja di wilayah tersebut. Masjid di wilayah tersebut bernama Masjid Al-Furqon yang bernuansa hijau dan kuning, sedangkan gereja di Dusun Gesing adalah Gereja Pantekosta Indonesia. Sebagian penduduk Dusun Gesing memiliki mata pencaharian sebagai petani atau pekebun.
Potensi utama dari Dusun Gesing adalah produk kopi bubuk murni, hasil olahan dari biji kopi yang ditanam di hampir seluruh wilayah Desa Gesing. Jenis kopi yang ditanam dan diolah adalah kopi Robusta. Pengolahan biji kopi hingga menjadi bubuk dapat dilakukan di Dusun Gesing karena telah tersedianya alat giling di dusun tersebut. Selain potensi sumber daya alam, Dusun Gesing juga memiliki potensi kesenian tradisional, yaitu kesenian karawitan, yang sering disebut juga sebagai kesenian “klonengan” oleh masyarakat sekitar. Alat musik yang dipakai tersimpan di gedung PKK milik desa. Kegiatan seni ini biasa dilaksanakan pada hari Rabu, Jumat, dan Sabtu, tetapi tetap disesuaikan dengan waktu luang yang dimiliki oleh kelompok remaja, kelompok PKK, dan perkumpulan orang tua. Selain itu, terdapat pula makam Kyai Bagor, sesepuh Desa Gesing, yang sering dijadikan sebagai tempat ziarah serta wisata peninggalan bersejarah lainnya. Terdapat pula dam atau bendungan yang berfungsi sebagai penyuplai kebutuhan air bagi pertanian dan perkebunan di wilayah Dusun Gesing dan sekitarnya.
Inovasi Produk dari Limbah Industri
Banyaknya industri rumah tangga (home industry) yang berada di wilayah Desa Gesing memang membantu dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Namun, terkadang keberadaan industri-industri tersebut juga menyisakan masalah, salah satunya adalah masalah limbah. Di Desa Gesing industri rumahan yang paling banyak adalah industri yang mengolah panganan dari bahan baku pisang, seperti pisang aroma dan ceriping pisang. Industri ini pun menghasilkan banyak limbah dalam bentuk kulit pisang. Beberapa industri menggunakan limbah pisang untuk pangan ternak. Namun, penduduk Dusun Gesing memiliki ide untuk melakukan inovasi terhadap limbah kulit pisang tersebut agar tetap dapat menjadi komoditas yang membantu perekonomian warga. Maka kemudian dibuatlah Cekusang (Cemilan Kulit Pisang), yang merupakan produk makanan ringan hasil olahan dari kulit pisang.

Si Cair & Si Hijau

Published Februari 19, 2013 by mariaekawulandari

Hijau melebur menjadi kuning sayu

Akar nan kokoh hanya menopang carang dan ranting

Anak kecil meraung menenti tetesan air

Dimanakah benda berbentuk liquid itu?

50 Tahun yang lalu anak kecil menari-nari dibawah pancuran

50 Tahun yang lalu si paru-paru dunia kukuh menaungi canda tawa anak-anak di bawah teriknya matahari

50 Tahun yang lalu, manusia dapat bebas

mandi

mencuci baju

bahkan rumahpun bisa dicuci

ah, 50 tahun kemudian hanya menyisakan kesuraman

Kini, aku hanya bisa mengutuk

Kini, aku hanya bisa berpasrah

Sampai ajal menjemputku

Sampai dunia baru terbentuk

dan sampai kesempatan keduaku tiba

tuk lebih memberi perhatian dan kasih sayang pada si cair dan si hijau itu

Penghakiman Bukan Penghukuman

Published September 21, 2012 by mariaekawulandari
Foto: Penghakiman bukan penghukuman</p><br />
<p>04 September 2012</p><br />
<p>Bacaan Hari ini:<br /><br />
1 Petrus 4:17 "Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman<br /><br />
dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi.<br /><br />
Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya<br /><br />
dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?"<br /><br />
____________________________________</p><br />
<p>Terkadang saya berpikir jika orang Kristen percaya bahwa mereka tidak<br /><br />
pernah membuat penilaian terhadap orang lain, bahwa mereka hanya<br /><br />
mengasihi semua orang.<br /><br />
Meskipun benar bahwa kita harus saling mengasihi, namun mengasihi juga<br /><br />
berarti berbicara tentang kebenaran.<br /><br />
Bahkan, Alkitab mengatakan kepada kita untuk berbicara tentang kebenaran<br /><br />
 didalam kasih (lihat Efesus 4:15).<br /><br />
Jadi jika saya makan siang dengan seorang teman dan ada bayam tersangkut<br /><br />
 di giginya, maka sebagai teman, saya akan memberitahunya.<br /><br />
Seorang teman akan mengatakan kebenaran kepada temannya, meskipun<br /><br />
kebenaran itu akan terdengar tidak nyaman atau terasa canggung.</p><br />
<p>Lalu ada hal-hal yang lebih besar, seperti dosa.<br /><br />
Mungkin Anda melihat beberapa kompromi, beberapa kelemahan dalam<br /><br />
kehidupan teman Anda.<br /><br />
Maka Anda berkata, "Saya mengasihimu, dan karena itulah saya perlu<br /><br />
memperingatkanmu."<br /><br />
Teman Anda mungkin akan marah, karena kebanyakan orang tidak suka<br /><br />
dikritik.<br /><br />
Dan respon yang sering kita dengar adalah, "Jangan menghakimi saya!<br /><br />
 Memangnya siapa kamu berani menghakimi saya?<br /><br />
Bukankah ada di Alkitab, "'Jangan kamu menghakimi, supaya kamu<br /><br />
tidak dihakimi'?"</p><br />
<p>Namun Alkitab mengatakan kepada kita bahwa penghakiman dimulai dari<br /><br />
rumah Allah sendiri (lihat 1 Petrus 4:17).<br /><br />
Bahkan Alkitab memberitahu kita, "Tidak tahukah kamu, bahwa<br /><br />
orang-orang kudus akan menghakimi dunia?<br /><br />
Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu<br /><br />
sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?" (1<br /><br />
Korintus 6:2).<br /><br />
Ketika kita membuat penilaian tentang kehidupan seseorang, pada dasarnya<br /><br />
 kita menghakimi mereka, meskpun tidak ada yang salah dengan hal<br /><br />
menghakimi.<br /><br />
Namun yang harus kita hindari adalah menghukum.<br /><br />
Ketika Yesus berkata, "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak<br /><br />
dihakimi" (Matius 7:1), dalam terjemahan yang lebih baik,<br /><br />
"Jangan kamu menghukum, supaya kamu tidak dihukum."<br /><br />
____________________________________</p><br />
<p>Bacaan Alkitab Setahun :<br /><br />
Mazmur 143-145; I Korintus 15:1-11<br /><br />
____________________________________</p><br />
<p>Ya, kita harus membuat penghakiman. Ya, kita harus membuat penilaian.<br /><br />
Tapi kita tidak dalam posisi untuk menghukum. Kita bukan hakim, juri,<br /><br />
atau algojo.<br /><br />
(Diterjemahkan dari Daily Devotion by Greg Laurie)</p><br />
<p>Selengkapnya klik: http://www.TheologiaOnline.com

1 Petrus 4:17 “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada k…

ita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?”
____________________________________Terkadang saya berpikir jika orang Kristen percaya bahwa mereka tidak pernah membuat penilaian terhadap orang lain, bahwa mereka hanya mengasihi semua orang.
Meskipun benar bahwa kita harus saling mengasihi, namun mengasihi juga berarti berbicara tentang kebenaran.
Bahkan, Alkitab mengatakan kepada kita untuk berbicara tentang kebenaran didalam kasih (lihat Efesus 4:15).
Jadi jika saya makan siang dengan seorang teman dan ada bayam tersangkut di giginya, maka sebagai teman, saya akan memberitahunya.
Seorang teman akan mengatakan kebenaran kepada temannya, meskipun kebenaran itu akan terdengar tidak nyaman atau terasa canggung.Lalu ada hal-hal yang lebih besar, seperti dosa.
Mungkin Anda melihat beberapa kompromi, beberapa kelemahan dalam kehidupan teman Anda.
Maka Anda berkata, “Saya mengasihimu, dan karena itulah saya perlu memperingatkanmu.”
Teman Anda mungkin akan marah, karena kebanyakan orang tidak suka dikritik.
Dan respon yang sering kita dengar adalah, “Jangan menghakimi saya! Memangnya siapa kamu berani menghakimi saya?
Bukankah ada di Alkitab, “‘Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi’?”

Namun Alkitab mengatakan kepada kita bahwa penghakiman dimulai dari rumah Allah sendiri (lihat 1 Petrus 4:17).
Bahkan Alkitab memberitahu kita, “Tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia?
Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?” (1 Korintus 6:2).
Ketika kita membuat penilaian tentang kehidupan seseorang, pada dasarnya kita menghakimi mereka, meskpun tidak ada yang salah dengan hal menghakimi.
Namun yang harus kita hindari adalah menghukum.
Ketika Yesus berkata, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Matius 7:1), dalam terjemahan yang lebih baik, “Jangan kamu menghukum, supaya kamu tidak dihukum.”
____________________________________

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 143-145; I Korintus 15:1-11
____________________________________

Ya, kita harus membuat penghakiman. Ya, kita harus membuat penilaian. Tapi kita tidak dalam posisi untuk menghukum. Kita bukan hakim, juri, atau algojo.
(Diterjemahkan dari Daily Devotion by Greg Laurie)

Selengkapnya klik: http://www.TheologiaOnline.com/

Bahagia dan Damai Sejahtera

Published September 21, 2012 by mariaekawulandari
Foto: Bahagia dan Damai Sejahtera

Ayat bacaan: Yesaya 48:18

======================

"Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai 
sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan 
kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang
 tidak pernah berhenti."

Jika kita melihat iklan-iklan di televisi maka kita pun akan melihat 
bahwa produk-produk itu biasanya mengarahkan kita untuk percaya bahwa 
kebahagiaan itu selalu dapat dibeli, terutama ketika kita membeli 
produk-produk tersebut. Seperti itulah memang dunia berpikir. 
Kebahagiaan dianggap akan menjadi milik kita apabila kita mengumpulkan 
harta sebanyak-banyaknya. Semakin banyak semakin baik dan semakin puas. 
Bukankah tanpa uang kita tidak bisa bisa beli rumah, mobil mewah, buka 
usaha dimana-mana, punya cukup modal untuk menghias dan mempercantik 
diri, mampu membeli berbagai aksesoris sesuai trend jetset, bisa membeli
 baju dan perlengkapan dengan merek terkenal, memiliki gadget yang 
paling up to date sehingga tidak dianggap ketinggalan jaman, bisa 
liburan ke luar negeri kapan saja kita mau, dan sebagainya? Banyak orang
 yang percaya bahwa semua ini bisa mendatangkan kebahagiaan. Anda bisa 
melihat sebuah iklan mobil yang menunjukkan wajah paling bahagia sedunia
 dari sebuah keluarga yang tersenyum lebar sampai giginya tampil lengkap
 semua ketika mengendarai mobil itu. Seperti itulah bentuk dunia 
berpikir dalam mencari kebahagiaan. So, kalau mau bahagia, ya beli mobil
 itu. Orang diluar mobil itu pasti mukanya menekuk semuanya. Di samping 
itu, ada banyak juga yang mengacu kepada sisi emosional untuk mencari 
kebahagiaan. Mereka akan terus mencari pujian, pengakuan, penghargaan 
dan popularitas alias ketenaran. Mereka ini biasanya selalu haus pujian,
 maunya selalu dihormati, ingin disanjung tinggi, dipuja dan dipuji. 
Kenyataannya, berbagai hal yang dianggap mampu memberikan kebahagiaan di
 atas seringkali tidak mampu untuk menjawab kebutuhan kita akan sebuah 
kebahagiaan atau damai sejahtera. Mungkin untuk jangka waktu tertentu 
yang singkat hal-hal tersebut di atas bisa memberikan rasa puas dan 
senang, tapi tidak dalam waktu yang lama. Saya pribadi sudah bertemu 
dengan begitu banyak orang yang secara fisik tidak ada kekurangan, 
begitu juga dari sisi materi mereka lebih dari cukup, tapi mereka tidak 
merasakan damai sejahtera dalam diri mereka. Ada bagian kosong dalam 
hati mereka yang tidak pernah bisa tertutupi meski sebanyak apapun 
mereka menggelimangi lubang itu lewat materi, pujian atau apapun yang 
dipercaya dunia bisa mendatangkan kebahagiaan. Disisi lain, saya 
mengenal banyak orang yang hidupnya pas-pasan dan tidak punya mobil 
seperti dalam iklan diatas, tetapi mereka tetap bahagia dengan senyum 
yang cerah.

Saya teringat kepada sebuah kesimpulan dari seorang ahli matematika dan 
fisika terkenal yang juga rajin menulis filsafat bernama Blaise Pascal. 
Disamping banyaknya teori yang berasal dari Pascal yang menjadi dasar 
ilmu pengetahuan sampai sekarang, ia pun pernah memberikan sebuah  
pernyataan yang sangat esensial mengenai kehidupan. "There is a God
 shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any 
created thing, but only by God, the Creator, made known through 
Jesus." Kalau diterjemahkan bunyinya kira-kira demikian: Ada sebuah
 rongga yang tidak akan pernah bisa diisi oleh siapapun atau apapun, 
kecuali oleh Tuhan, melalui Yesus. Alangkah menarik ketika kesimpulan 
lewat perenungan ini keluar dari orang yang justru dikenal sebagai ahli 
dalam ilmu pengetahuan. Setinggi-tingginya kita menguasai ilmu, 
sehebat-hebatnya kita sebagai manusia, sekaya-kayanya diri kita, 
ternyata ada sebuah rongga atau "God shaped vacuum" yang akan 
selalu ada di dalam diri kita yang tidak akan mampu dipenuhi oleh hal 
apapun selain oleh Tuhan sendiri.

Baik lewat pernyataan Pascal maupun lewat contoh-contoh nyata yang saya 
atau anda juga mungkin sering lihat langsung, kebahagiaan sejati 
hanyalah bisa kita peroleh secara rohani lewat hubungan kita dengan 
Tuhan. Karenanya, ketaatan dan kedekatan terhadap Tuhan merupakan kunci 
penting untuk bisa memperoleh kebahagiaan yang sejati. Dalam kitab 
Yesaya kita bisa membaca sebuah ayat yang secara jelas mengatakannya. 
"Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai 
sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan 
kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang
 tidak pernah berhenti." (Yesaya 48:18). Wow, perhatikan. Tuhan 
menjanjikan sebentuk kebahagiaan bisa kita peroleh secara melimpah tanpa
 henti, bagai gelombang laut yang tidak pernah berhenti dan damai 
sejahtera bagai sungai yang tidak pernah kering. Dan itu semua diberikan
 Tuhan pada kita apabila kita memperhatikan  setiap perintah Tuhan 
secara serius dan sungguh-sungguh. Ketaatan kita akan membuat Tuhan 
berada dekat dengan kita, di dalam diri kita, dan dengan demikian rongga
 kosong dalam hati kita itu pun akan terisi oleh satu-satunya Pribadi 
yang sanggup untuk itu. Dan disanalah kita bisa merasakan kebahagiaan 
dan damai sejahtera sesungguhnya yang berasal dari Tuhan, yang tidak 
akan tergantung oleh baik buruknya situasi dalam hidup kita sehari-hari.
 Kalau kita bertanya mengapa seperti itu, jawabannya adalah, sebab Tuhan
 sendirilah yang merupakan sumber damai sejahtera. (Roma 15:33, 16:20).

Keinginan daging secara sekilas akan seolah mampu memberikan jawaban 
untuk pencarian kebahagiaan. Banyak orang akan begitu kerasnya berusaha 
untuk memuaskan keinginan dagingnya dan untuk mencapai itu bahkan rela 
mengorbankan hubungan dengan Tuhan. Mereka mencoba terus lebih dekat 
lagi kepada hal-hal duniawi yang dianggap mampu menjawab kebutuhan akan 
kebahagiaan itu, tetapi sesungguhnya lewat Roh-lah kita akan mampu 
memperolehnya. Bagi dunia keinginan daging dianggap mampu menjadi 
solusi, padahal Firman Tuhan berkata "Karena keinginan daging 
adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai 
sejahtera." (Roma 8:6). Dalam Galatia 5:22-23 pun kita bisa melihat
 bahwa damai sejahtera dan sukacita merupakan dua dari beberapa buah 
Roh. Rongga kosong dalam hati kita akan tetap ada selama kita mencoba 
mencari solusi yang tidak tepat, semua itu tidak akan mampu mengisi 
kekosongan kecuali Tuhan sendiri.

Lalu mari kita lihat bahwa Yesus juga sudah mengatakan: "..Kerajaan
 Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai 
sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus." (Roma 14:17). Bukan cuma 
fisik kita saja yang butuh diberi makan dan minum, tetapi jiwa dan roh 
kita pun butuh nutrisi. Disitulah letaknya jawaban akan kebutuhan kita 
akan kebahagiaan ini, yang akan mampu memenuhi rongga kosong dalam hati 
kita dalam kepenuhan untuk mencapai kebahagiaan yang penuh dengan 
sukacita, dan akan mampu bertahan untuk waktu lama. Kebahagiaan sejati 
hanya bisa disediakan oleh Tuhan, dan itu hanya akan bisa terjadi jika 
Kerajaan Allah hadir dalam kehidupan kita. Harta benda, kekayaan, 
jabatan, pujian dan penghargaan tidak akan pernah mampu menjawab 
kebutuhan kita akan kebahagiaan ini.

Kita mungkin bisa mengira bahwa uang merupakan jawaban atas 
segala-galanya, yang sepertinya mampu memenuhi segala kebutuhan kita 
atas berbagai produk yang terus menawarkan kebahagiaan. Tapi pada suatu 
ketika nanti, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ada ruang 
kosong yang tidak akan pernah bisa diisi penuh oleh apapun kecuali oleh 
Tuhan. Ketika rongga itu terpenuhi, disanalah kita akan merasakan 
kebahagiaan yang tidak lagi tergantung lewat berbagai kesusahan di dunia
 ini. Semakin meninggalkan atau menjauh dari Tuhan dan terus mengejar 
hal-hal dunia yang nikmat bagi daging kita justru akan membuat rongga 
kosong ini terus melebar, menenggelamkan setiap sukacita yang seharusnya
 menjadi bagian dari kita lewat Kristus. Jika anda saat ini sedang tidak
 dalam keadaan terdesak atau sulit, tapi ada rasa kosong dalam hati anda
 yang membuat anda merasa kering tanpa kebahagiaan dan damai sejahtera, 
itu tandanya anda harus mulai berpikir bukannya semakin menjauh dari 
Tuhan, tetapi seharusnya malah semakin dekat. "Mendekatlah kepada 
Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8). Temukanlah 
rongga kosong itu dan biarkan Tuhan mengisinya. Mendekatlah kepada Tuhan
 dan dengarkan perintah-perintahNya. Itu akan mengundang Tuhan untuk 
segera menambal kekosongan itu dengan kebahagiaan sejati yang hanya 
berasal daripadaNya.

Kebahagiaan dan damai sejahtera yang melimpah tanpa henti menjadi milik 
orang-orang yang taat pada perintahNya

Selengkapnya klik: http://www.TheologiaOnline.com

Ayat bacaan: Yesaya 48:18
======================
“Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah …

seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.”

Jika kita melihat iklan-iklan di televisi maka kita pun akan melihat bahwa produk-produk itu biasanya mengarahkan kita untuk percaya bahwa kebahagiaan itu selalu dapat dibeli, terutama ketika kita membeli produk-produk tersebut. Seperti itulah memang dunia berpikir. Kebahagiaan dianggap akan menjadi milik kita apabila kita mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Semakin banyak semakin baik dan semakin puas. Bukankah tanpa uang kita tidak bisa bisa beli rumah, mobil mewah, buka usaha dimana-mana, punya cukup modal untuk menghias dan mempercantik diri, mampu membeli berbagai aksesoris sesuai trend jetset, bisa membeli baju dan perlengkapan dengan merek terkenal, memiliki gadget yang paling up to date sehingga tidak dianggap ketinggalan jaman, bisa liburan ke luar negeri kapan saja kita mau, dan sebagainya? Banyak orang yang percaya bahwa semua ini bisa mendatangkan kebahagiaan. Anda bisa melihat sebuah iklan mobil yang menunjukkan wajah paling bahagia sedunia dari sebuah keluarga yang tersenyum lebar sampai giginya tampil lengkap semua ketika mengendarai mobil itu. Seperti itulah bentuk dunia berpikir dalam mencari kebahagiaan. So, kalau mau bahagia, ya beli mobil itu. Orang diluar mobil itu pasti mukanya menekuk semuanya. Di samping itu, ada banyak juga yang mengacu kepada sisi emosional untuk mencari kebahagiaan. Mereka akan terus mencari pujian, pengakuan, penghargaan dan popularitas alias ketenaran. Mereka ini biasanya selalu haus pujian, maunya selalu dihormati, ingin disanjung tinggi, dipuja dan dipuji. Kenyataannya, berbagai hal yang dianggap mampu memberikan kebahagiaan di atas seringkali tidak mampu untuk menjawab kebutuhan kita akan sebuah kebahagiaan atau damai sejahtera. Mungkin untuk jangka waktu tertentu yang singkat hal-hal tersebut di atas bisa memberikan rasa puas dan senang, tapi tidak dalam waktu yang lama. Saya pribadi sudah bertemu dengan begitu banyak orang yang secara fisik tidak ada kekurangan, begitu juga dari sisi materi mereka lebih dari cukup, tapi mereka tidak merasakan damai sejahtera dalam diri mereka. Ada bagian kosong dalam hati mereka yang tidak pernah bisa tertutupi meski sebanyak apapun mereka menggelimangi lubang itu lewat materi, pujian atau apapun yang dipercaya dunia bisa mendatangkan kebahagiaan. Disisi lain, saya mengenal banyak orang yang hidupnya pas-pasan dan tidak punya mobil seperti dalam iklan diatas, tetapi mereka tetap bahagia dengan senyum yang cerah.

Saya teringat kepada sebuah kesimpulan dari seorang ahli matematika dan fisika terkenal yang juga rajin menulis filsafat bernama Blaise Pascal. Disamping banyaknya teori yang berasal dari Pascal yang menjadi dasar ilmu pengetahuan sampai sekarang, ia pun pernah memberikan sebuah pernyataan yang sangat esensial mengenai kehidupan. “There is a God shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus.” Kalau diterjemahkan bunyinya kira-kira demikian: Ada sebuah rongga yang tidak akan pernah bisa diisi oleh siapapun atau apapun, kecuali oleh Tuhan, melalui Yesus. Alangkah menarik ketika kesimpulan lewat perenungan ini keluar dari orang yang justru dikenal sebagai ahli dalam ilmu pengetahuan. Setinggi-tingginya kita menguasai ilmu, sehebat-hebatnya kita sebagai manusia, sekaya-kayanya diri kita, ternyata ada sebuah rongga atau “God shaped vacuum” yang akan selalu ada di dalam diri kita yang tidak akan mampu dipenuhi oleh hal apapun selain oleh Tuhan sendiri.

Baik lewat pernyataan Pascal maupun lewat contoh-contoh nyata yang saya atau anda juga mungkin sering lihat langsung, kebahagiaan sejati hanyalah bisa kita peroleh secara rohani lewat hubungan kita dengan Tuhan. Karenanya, ketaatan dan kedekatan terhadap Tuhan merupakan kunci penting untuk bisa memperoleh kebahagiaan yang sejati. Dalam kitab Yesaya kita bisa membaca sebuah ayat yang secara jelas mengatakannya. “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti.” (Yesaya 48:18). Wow, perhatikan. Tuhan menjanjikan sebentuk kebahagiaan bisa kita peroleh secara melimpah tanpa henti, bagai gelombang laut yang tidak pernah berhenti dan damai sejahtera bagai sungai yang tidak pernah kering. Dan itu semua diberikan Tuhan pada kita apabila kita memperhatikan setiap perintah Tuhan secara serius dan sungguh-sungguh. Ketaatan kita akan membuat Tuhan berada dekat dengan kita, di dalam diri kita, dan dengan demikian rongga kosong dalam hati kita itu pun akan terisi oleh satu-satunya Pribadi yang sanggup untuk itu. Dan disanalah kita bisa merasakan kebahagiaan dan damai sejahtera sesungguhnya yang berasal dari Tuhan, yang tidak akan tergantung oleh baik buruknya situasi dalam hidup kita sehari-hari. Kalau kita bertanya mengapa seperti itu, jawabannya adalah, sebab Tuhan sendirilah yang merupakan sumber damai sejahtera. (Roma 15:33, 16:20).

Keinginan daging secara sekilas akan seolah mampu memberikan jawaban untuk pencarian kebahagiaan. Banyak orang akan begitu kerasnya berusaha untuk memuaskan keinginan dagingnya dan untuk mencapai itu bahkan rela mengorbankan hubungan dengan Tuhan. Mereka mencoba terus lebih dekat lagi kepada hal-hal duniawi yang dianggap mampu menjawab kebutuhan akan kebahagiaan itu, tetapi sesungguhnya lewat Roh-lah kita akan mampu memperolehnya. Bagi dunia keinginan daging dianggap mampu menjadi solusi, padahal Firman Tuhan berkata “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6). Dalam Galatia 5:22-23 pun kita bisa melihat bahwa damai sejahtera dan sukacita merupakan dua dari beberapa buah Roh. Rongga kosong dalam hati kita akan tetap ada selama kita mencoba mencari solusi yang tidak tepat, semua itu tidak akan mampu mengisi kekosongan kecuali Tuhan sendiri.

Lalu mari kita lihat bahwa Yesus juga sudah mengatakan: “..Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” (Roma 14:17). Bukan cuma fisik kita saja yang butuh diberi makan dan minum, tetapi jiwa dan roh kita pun butuh nutrisi. Disitulah letaknya jawaban akan kebutuhan kita akan kebahagiaan ini, yang akan mampu memenuhi rongga kosong dalam hati kita dalam kepenuhan untuk mencapai kebahagiaan yang penuh dengan sukacita, dan akan mampu bertahan untuk waktu lama. Kebahagiaan sejati hanya bisa disediakan oleh Tuhan, dan itu hanya akan bisa terjadi jika Kerajaan Allah hadir dalam kehidupan kita. Harta benda, kekayaan, jabatan, pujian dan penghargaan tidak akan pernah mampu menjawab kebutuhan kita akan kebahagiaan ini.

Kita mungkin bisa mengira bahwa uang merupakan jawaban atas segala-galanya, yang sepertinya mampu memenuhi segala kebutuhan kita atas berbagai produk yang terus menawarkan kebahagiaan. Tapi pada suatu ketika nanti, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ada ruang kosong yang tidak akan pernah bisa diisi penuh oleh apapun kecuali oleh Tuhan. Ketika rongga itu terpenuhi, disanalah kita akan merasakan kebahagiaan yang tidak lagi tergantung lewat berbagai kesusahan di dunia ini. Semakin meninggalkan atau menjauh dari Tuhan dan terus mengejar hal-hal dunia yang nikmat bagi daging kita justru akan membuat rongga kosong ini terus melebar, menenggelamkan setiap sukacita yang seharusnya menjadi bagian dari kita lewat Kristus. Jika anda saat ini sedang tidak dalam keadaan terdesak atau sulit, tapi ada rasa kosong dalam hati anda yang membuat anda merasa kering tanpa kebahagiaan dan damai sejahtera, itu tandanya anda harus mulai berpikir bukannya semakin menjauh dari Tuhan, tetapi seharusnya malah semakin dekat. “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” (Yakobus 4:8). Temukanlah rongga kosong itu dan biarkan Tuhan mengisinya. Mendekatlah kepada Tuhan dan dengarkan perintah-perintahNya. Itu akan mengundang Tuhan untuk segera menambal kekosongan itu dengan kebahagiaan sejati yang hanya berasal daripadaNya.

Kebahagiaan dan damai sejahtera yang melimpah tanpa henti menjadi milik orang-orang yang taat pada perintahNya

Selengkapnya klik: http://www.TheologiaOnline.com/

Published September 21, 2012 by mariaekawulandari
Senjata Kompromi

07 September 2012

Matius 13:31-32 “Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: ‘Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Me…

mang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.'”
____________________________________

Ketika Yesus berkata, “Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi,” orang-orang yang hidup di zaman-Nya akan mengerti bahwa Yesus membandingkannya dengan hal-hal terkecil.
Dan biji sesawi dianggap sebagai salah satu yang terkecil dari segala jenis benih.

Tapi ada yang harus kita ketahui: biji sesawi tidak tumbuh menjadi pohon, mereka tumbuh menjadi semak-semak atau belukar.
Jadi, sesawi tumbuh secara tidak alami.
Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah adalah seperti sesuatu yang kecil yang tumbuh dengan sangat besar, atau seumpama seperti Chihuahua yang tumbuh sebesar gajah.
Idealnya adalah sesuatu yang tumbuh dengan tidak normal.

Sesawi itu tumbuh lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.
Pada perumpamaan pertama dalam Matius 13 tentang Perumpamaan Penabur, kita melihat bahwa burung adalah simbol dari Iblis.
Dan jika Anda membaca semua perumpamaan dalam kitab ini, dikatakan tentang Tuhan yang bekerja dan iblis yang menentang-Nya.

Saya yakin bahwa perumpamaan ini adalah gambaran dari gereja yang tumbuh dengan sangat besar namun secara tidak normal, dalam artian, gereja ini sedang diserbu oleh para penipu.
Dan saya pikir perumpamaan ini sesuai dengan apa yang kita lihat sekarang.
Alkitab mengatakan bahwa salah satu tanda hari-hari terakhir ialah “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” (2 Timotius 3:5)

Ini adalah tentang kompromi dalam kehidupan para pengikut Yesus Kristus.
Dan salah satu senjata yang paling efektif dalam gudang senjata iblis adalah kompromi.
Iblis tahu dia tidak bisa melahap Anda sekaligus, jadi dia menggigit Anda secara perlahan-lahan.
____________________________________

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 149-150; I Korintus 16
____________________________________

Hal-hal kecil menuntun kepada hal-hal yang besar, itulah intinya. Dan disinilah saat dimana banyak orang percaya jatuh karena kompromi.

Selengkapnya klik: http://www.TheologiaOnline.com/

Lihat Selengkapnya

Foto: Senjata Kompromi

07 September 2012

Bacaan Hari ini:
Matius 13:31-32 "Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi 
kepada mereka, kata-Nya: 'Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, 
yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang 
paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, 
sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi 
pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada 
cabang-cabangnya.'"
____________________________________

Ketika Yesus berkata, "Kerajaan Sorga itu seumpama biji 
sesawi," orang-orang yang hidup di zaman-Nya akan mengerti bahwa 
Yesus membandingkannya dengan hal-hal terkecil.
Dan biji sesawi dianggap sebagai salah satu yang terkecil dari segala 
jenis benih.

Tapi ada yang harus kita ketahui: biji sesawi tidak tumbuh menjadi 
pohon, mereka tumbuh menjadi semak-semak atau belukar.
Jadi, sesawi tumbuh secara tidak alami.
Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah adalah seperti sesuatu yang kecil 
yang tumbuh dengan sangat besar, atau seumpama seperti Chihuahua yang 
tumbuh sebesar gajah.
Idealnya adalah sesuatu yang tumbuh dengan tidak normal.

Sesawi itu tumbuh lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan 
menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada 
cabang-cabangnya.
Pada perumpamaan pertama dalam Matius 13 tentang Perumpamaan Penabur, 
kita melihat bahwa burung adalah simbol dari Iblis.
Dan jika Anda membaca semua perumpamaan dalam kitab ini, dikatakan 
tentang Tuhan yang bekerja dan iblis yang menentang-Nya.

Saya yakin bahwa perumpamaan ini adalah gambaran dari gereja yang tumbuh
 dengan sangat besar namun secara tidak normal, dalam artian, gereja ini
 sedang diserbu oleh para penipu.
Dan saya pikir perumpamaan ini sesuai dengan apa yang kita lihat 
sekarang.
Alkitab mengatakan bahwa salah satu tanda hari-hari terakhir ialah 
"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada 
hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!" (2 
Timotius 3:5)

Ini adalah tentang kompromi dalam kehidupan para pengikut Yesus Kristus.
Dan salah satu senjata yang paling efektif dalam gudang senjata iblis 
adalah kompromi.
Iblis tahu dia tidak bisa melahap Anda sekaligus, jadi dia menggigit 
Anda secara perlahan-lahan.
____________________________________

Bacaan Alkitab Setahun :
Mazmur 149-150; I Korintus 16
____________________________________

Hal-hal kecil menuntun kepada hal-hal yang besar, itulah intinya. Dan 
disinilah saat dimana banyak orang percaya jatuh karena kompromi.

Selengkapnya klik: http://www.TheologiaOnline.com