KATA CINTA DI UJUNG PERPISAHAN (cerpen)

Published Agustus 11, 2012 by mariaekawulandari

by: Maria Eka Wulandari

 

Mentari tergantikan awan hitam, menambah kekelaman pada malam yang suram. Tak terlihat secuilpun bulan tersenyum menawan. Bintang yang menggantung di angkasa gaduh membuat kerisauan. Awan-awan dilangit mulai meneteskan hujan. Ya, hujan air mata.

***

                Namaku Maya Azolla Wulandari. Aku bersekolah di SMA Harapan Jaya, salahsatu sekolah terfavorit di kotaku. Sekarang aku baru saja menerima hasil ujian nasional dan malam ini akan menghadiri acara perpisahanku bersama Esma. Esma adalah singkatan dari IPS 5, tempat dimana aku mendapatkan ilmu dan mengukir berbagai kisah. Kisahku bersama dengan anak-anak Esma, kisahku dengan ketiga sahabatku, dan kisah cintaku dengan Abrith Ibara. Aku bersyukur berada ditengah-tengah Esma. Aku dapat bersatu kembali dengan ketiga sahabatku yang terpisah waktu aku kelas X. Aku juga senang bisa mengenal Abrith yang kupanggil Abi, hingga aku jatuh hati padanya.

                Malam ini, kuhabiskan detik-detik terakhirku bersama Esma. Aku mencoba tegar untuk menerima kenyataan bahwa harus berpisah dengan Esma, terlebih kepada ketiga sahabatku dan Abi. Oh, malam ini juga malam yang menyedihkan buatku. Hampir semua anak-anak Esma membawa pasangan mereka masing-masing. Mereka tampak serasi. Terlihat semua perempuan memakai gaun-gaun indah padu dengan pasangan laki-laki mereka yang memakai jas yang serasi. Tidak seperti aku, yang hanya memakai celana jeans dan kaos dengan rambut dikuncir satu. Kata sahabatku, pantas tak ada cowok yang mendekatiku karena penampilanku yang biasa-biasa ini. Aku tak bisa merubah penampilanku. Semua itu memang styelku. Tapi bagiku rasa cinta yang sesungguhnya itu tak memandang dari penampilan, tetapi dari hati. Buat apa orang memiliki penampilan yang sempurna bila berhati munafik? Malah akibat kemunafikan itu cinta menjadi sirna.

                Aku melangkahkan kakiku menuju sofa yang ada dibelakang. Aku ingin menyendiri. Menyendiri ditengah canda tawa pasangan yang mesra teman-temanku tersebut. Aku terlarut dalam bayangku. Andai saja Abi berada disampingku sekarang. Aku pasti akan menjadi seorang remaja yang paling bahagia di dunia ini.

Dor!!!!

“Ada anak lumba-lumba lagi menggalau nih!” Linda, sahabatku membuatku terperanjat dari lamunan indahku.

“Ngapain kamu kesini. Udah sana, urusin tuh pangeran kodokmu!”

“Kamu pasti lagi mikirin Abi, kan? Udah, kamu ngaku aja ke dia kalau kamu suka. Atau aku yang disuruh ngomongin ke dia? Keburu ditempel cewek lain, lho?”

Aku hanya diam. Entah kenapa, kata-kata Linda bersarang di otakku. Memang sih, Abi mempunyai teman dekat cewek. Cantik, tinggi, putih, pintar, pokoknya perfect. Rani, mungkin sangat cocok mendampingi Abi. Ya..berani mencintai seseorang, berarti kita harus siap tuk disakiti.

“May, jangan lihat ke belakang!” lagi-lagi Linda membuyarkanku yang sedang asyik meresapi kata-kata yang diucapkan Linda tadi. Sontak, aku memutar leher ke belakang. Terlihat jelas, dua sosok yang mesra berjalan anggun menuju tempat duduk terdepan. Jeritan kekecewaanku menghujam jiwa. Antara mimpi buruk bersatu dengan kenyataan yang berujung kepedihan. Ya, kejadian yang berada di sinetron ini menjadi nyata dalam sejarah kehidupanku.

Kegundahan dan kekecewaan yang bergemuruh di hatiku tak dapat membuatku nyaman berada di tengah acara ini. Aku ingin segera pulang ke rumah. Aku ingin tidur, lalu bangun keesokannya dan menganggap peristiwa malam itu memang hanya mimpi buruk waktu aku terlelap. Tapi, aku mencoba menampik keinginan hatiku. Tujuan utamaku menghadiri acara ini adalah untuk Esma, bukan untuk menangisi orang yang tidak menganggapku. Aku melangkahkan kakiku menuju ke toilet. Aku ingin membasuh mukaku yang sembap. Jikalau bisa, aku juga ingin membasuh luka yang sudah membatik disetiap relung hatiku. Aku tahu ini sangat berlebihan. Aku harus sadar, aku baru saja lulus SMA. Aku harus menjadi perempuan yang kuat. Kuat untuk melanjutkan hidup demi masa depan cerah yang harus aku gapai.

Acara inti dimulai. Lia, salahsatu sahabatku yang menjadi MC meminta anak-anak Esma satu-persatu maju kedepan panggung untuk memberikan kesan dan pesan terakhir. Untung aku sudah menyiapkan kata-kata dan selembar puisi untuk dibaca dihadapan teman-teman. Satu persatu anakpun mulai maju. Rasa haru biru menyelimuti suasana di gedung tempat acara perpisahan ini. Kini, giliranku maju untuk memberikan kesan-kesan tersebut. Di atas panggung aku begitu gugup. Kalimat-kalimat yang sudah kurangkai dan kuhafalkan dirumah tak satu kata menyangkut dalam otakku. Mungkin karena saat ini aku melihat Abi yang sedang berada disamping perempuan tersebut. Dan akhirnya, kata-kata ini muncul sendiri dari mulutku.

“Waktu, bagiku adalah sebuah arti yang singkat. Dua tahun bagiku seperti satu malam. Satu malam yang indah dan sempurna bersama Esma. Aku bangga mengenal kalian. Ditengah-tengah kalian aku menjadi hebat karena kalian semua adalah orang-orang hebat yang pernah aku temui. Esma, melahirkan kebersamaan, rasa kesetiakawanan, pula rasa cinta.”

Tanpa terasa, ketika kumengucapkan kata “rasa cinta” air mataku menetes perlahan. Aku terburu-buru mengusap halus pipiku yang basah dan mengambil secarik kertas dalam saku celanaku. Akupun membacakan puisi buatanku yang sudah kubuat sejak lama.

Tak dapat terungkap antara nyata dan bayangan maya

Aku terjebak di dalamnya, terhempas dan terpuruk

Rangkaian cermin berderet melingkar jadikanku tak dapat menjangkau titik dimensi nyata

Hingga kedua pelupuk mataku terisi penuh oleh genangan air mata

                                Aku berdiri berpijakan awan yang perlahan menjadi air hujan

                                Akupun jatuh tersungkur bergenggam seutas tali putih yang bersinar

                                Perlahan, tali putih itu berubah menjadi seseorang

Ia menggenggam erat tanganku yang gemetar

Senyum bibirnya mendatangkan mentari

Hingga hujan yang terjatuh dari pelupuk mataku sirna

                                Tiba-tiba ia berubah lagi

                                Bukan menjadi seutas tali tetapi menjadi sinar putih yang berpantulan

                                diantara kaca-kaca itu

                                Dan tak kusangka, bayangan maya itu yang berkeliling menjebakku,

                                tersihir menjadi biasan warna-warni

Esma…

Kau mentariku

Kau sinar putihku

Kau pelangiku

Tak dapat kurangkai kata indah untukmu

Terimakasih, tlah jadikanku bersinar

Seperti bintang yang bertaburan menemani rembulan di malam kelam

Riuh tepuk tangan mengiringi langkahku turun dari panggung. Mataku masih berkaca-kaca. Sebenarnya  puisi itu kubuat tuk ditujukan pada Abi. Namun, nama “Abi” pada bait terakhir kuganti dengan “Esma”. Memang benar, walaupun aku hanya bisa memandang dan mengagumi Abi sejak aku berada di kelas XI, ia telah menjadi penyemangat belajarku. Abi memang mentariku yang selalu menghangatkan hatiku. Ia juga merupakan sinar putih dan pelangiku karena telah mengajariku tuk memandang indah hidup yang harus kujalani. Yang paling aku kagumi pula pada diri Abi adalah ia fasih berbahasa korea. Aku memang suka apapun yang berbau Korea terutama lagu-lagunya yang romantis.

 Beberapa detik kemudian, semuanya akan berakhir. Aku harus melupakan dan merelakan Abi. Mungkin tak akan semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, aku harus bisa. Disamping akan meneruskan kuliah, aku akan menyibukkan diri dengan hobiku membuat cerpen dan melanjutkan novel yang sedang kubuat. Dan detik ini, aku ingin sepuas-puasnya memandangi Abi walau ia berada disisi wanita lain yang tak kukenal.

Kini giliran Abi yang naik ke atas panggung untuk memberikan suatu persembahan bagi Esma. Ia tampak tenang berdiri di atas panggung tersebut. Senyum di bibir merahnya mengembang dan mulutnya mulai berkata-kata,

“Terimakasih buat kesempatan indah yang diberikan kepadaku. Aku tak dapat merangkai kata-kata indah untuk kalian. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih pada Esma yang selama 2 tahun ini telah ada bersamaku.”

Oh Tuhan, mendengar suara Abi yang lembut membuatku ingin melayang. Aku menunggu lagi kata-kata yang akan diucapkan Abi.

“Sekarang, aku ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk kalian. Lagu ini juga ingin kupersembahkan terkhusus untuk orang yang selama dua tahun ini aku cintai namun tak dapat kuungkapkan padanya. Aku ingin berpesan kepada teman-teman, jika kalian mencintai seseorang, ungkapkanlah didepannya apabila kalian tidak ingin menyesal sepertiku. Ya, aku memang pengecut. Tapi akan sampai detik ini saja”

Sebuah  pengakuan yang menyakitkan bagiku. Rani, memang sosok yang beruntung, mendapatkan cinta dari Abi. Tak sepertiku yang hanya bisa mengagumi tanpa dicintai oleh Abi.

Aku menikmati alunan lebut dentingan piano yang di bawakan Abi. Dentingan piano bersatu dengan suara Abi menjadi sebuah symfoni yang indah. Lagu milik Stinky yang berjudul “Mungkinkah” yang dibawakannya terkesan sedih. Lagi-lagi saat bagian reef, air mataku tak dapat tertahan untuk tidak menetes.

Mungkinkah kita kan slalu bersama walau terbentang jarak antara kita

Biarkan kupeluk erat bayangmu tuk melepaskan semua kerinduanku

Kau kusayang.. Slalu kujaga.. Takkan kulepas slamanya..

Hilangkanlah keraguanmu pada diriku

Disaat kujauh darimu..

***

Akhirnya selesai juga acara perpisahan ini. Aku berjalan gontai. Begitu lelah pikiranku malam ini. Aku merasakan pusing sehingga kuputuskan untuk duduk-duduk terlebih dahulu di kursi taman dekat gedung tempat perpisahan tadi. Sepi dan hening. Akupun mencoba memejamkan mata membiarkan angin malam berhembus menerpa wajahku yang basah akan air mata. Saat itu, tiba-tiba seseorang memanggil namaku. Ia langsung duduk disebelahku. Penglihatanku agak kabur karena kebanyakan menangis malam ini sehingga tak jelas melihat seseorang yang ada disampingku. Akupun mengusap-usap mataku agar penglihatanku lebih jelas. Jantungku melonjak ketika aku mengetahui siapa yang duduk disampingku. Ternyata Abi. Abi menoleh padaku dan alisnya tampak naik seakan bertanya,

“Kenapa menangis?’’

Aku gugup. Perutku tegang. Tak kuasa menatap matanya sedetik. Aku terpana, sungguh menghujam jantungku.

“E… Nggak apa-apa. Kok kamu masih di sini?’’ aku menjawab kikuk.

“Aku malas pulang kerumah. Orangtuaku sedang keluar kota.” jawabnya tenang

“Bukannya kamu bersama pacarmu, Rani? Kok nggak diantar pulang?’’

Oh my God! Kenapa aku tanya begitu? How stupid I am!

“Ha? Pacar? Yaampun, Rani itu sepupuku.” Abi tersenyum.

Sepupu? Jadi selama tadi aku cemburu dengan sepupunya Abi? Ya Tuhan, aku memang terlalu bodoh untuk cepat memvonis seseorang. Jadi, siapa yang dimaksud seseorang yang dua tahun dicintai Abi? Jangan-jangan? Ah, Maya.. Jangan berharap terlalu tinggi!

“Maya,”

Ia memandangku tajam. Aku menghindari dari tatapannya yang membius hatiku. Ia mengambil gitar yang tak kutahu ia bawa dan mulai memainkan sebuah lagu,

Kau kusayang.. Slalu kujaga.. Takkan kulepas slamanya..

Hilangkanlah keraguanmu pada diriku

Disaat kujauh darimu..

Aku diam ternganga. Jantungku terasa berhenti sesaat. Apa semua maksud ini?

“Benar, Maya. Lagu itu untukmu.” Abi meyakinkanku dengan menggenggam tanganku yang dingin. Apakah ini sungguh nyata? Aku mencubit tanganku sendiri, sakit. Ini sungguh nyata.

“Maya, jika aku bisa jadi bagian dari dirimu, aku mau jadi air matamu, yang tersimpan di hatimu, lahir dari matamu, hidup di pipimu, dan mati di bibirmu. Saranghae, Maya….”

Aku diam seribu bahasa. Kupandang mata Abi lekat-lekat, membaca pikirannya apakah ia berkata sungguh-sungguh atau tidak. Ia tampak serius, terlihat dari mimik muka seakan mengharapkan kata iya dari mulutku.

“Tapi sebentar lagi kita kan berpisah, Abi?”

“Dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan. Dan aku cuma bisa berharap dimana ada perpisahan disitupula kita dapat bertemu kembali.”

***

Langit mulai lelah menumpahkan air hujan. Begitupula denganku yang sudah kering akan air mata. Sekarang semuanya telah kudapatkan. Impianku tercapai disaksikan oleh rembulan yang mulai menampakkan senyumannya beserta sorakan gembira bintang-bintang di angkasa. Entah bagaimana kelanjutannya, hanya Tuhan yang menentukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: